www.kilaswarta.id – Kabupaten Tabanan menunjukkan komitmen yang kuat dalam memperkuat ketahanan pangan melalui aksi nyata yang dilakukan oleh Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M. Pada hari Selasa, 8 Juli 2025, beliau melakukan penanaman jagung secara simbolis di lahan seluas 88 hektar yang terletak di Subak Penarukan, Desa Mambang, Kecamatan Selemadeg Timur. Langkah ini merupakan bagian dari program “Bupati Ngantor di Desa” yang kini sudah memasuki desa ke-58 dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan lokal.
Bupati Sanjaya terlihat antusias menyapa para petani dan ikut berpartisipasi dalam penanaman jagung, yang merupakan bagian dari program PaJaLe, yang mencakup Padi, Jagung, dan Kedelai. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya komoditas jagung sebagai pilar baru dalam kemandirian pangan di Tabanan.
Menurutnya, diversifikasi pangan adalah langkah strategis yang perlu diambil untuk menghadapi berbagai tantangan yang ada. Dalam konteks ini, penanaman jagung bukan hanya sekadar aktivitas pertanian, tetapi juga merupakan bagian dari perjuangan untuk mencapai kemandirian pangan di daerah Tabanan.
Peran Jagung dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan Daerah
Jagung memiliki peran penting dalam meningkatkan ketahanan pangan, terutama di Tabanan. Data dari Dinas Pertanian setempat menunjukkan bahwa usaha tani jagung di Subak Penarukan tergolong menguntungkan. Biaya produksi yang diperlukan sekitar Rp18,6 juta per hektar, sedangkan potensi keuntungan bersih mencapai Rp14,4 juta.
Dengan produktivitas rata-rata mencapai 6 ton per hektar dan harga jual jagung pipilan sebesar Rp5.500 per kilogram, para petani pun dapat merasakan manfaat ekonomi yang signifikan. Hal ini mendorong mereka untuk terus berproduksi dan meningkatkan kualitas hasil pertanian mereka.
Selain itu, penanaman jagung di Tabanan juga berfungsi untuk memperkuat ketahanan pangan yang lebih luas. Dengan memanfaatkan lahan yang ada secara maksimal, para petani dapat memenuhi kebutuhan pangan tidak hanya untuk masyarakat lokal tetapi juga untuk wilayah sekitarnya.
Dialog Langsung antara Pemimpin dan Petani
Kegiatan penanaman yang berlangsung singkat namun penuh makna ini juga menjadi ajang dialog langsung antara kepala daerah dan para petani. Interaksi tersebut bertujuan untuk memperkuat komunikasi dan mempertegas komitmen pemerintah dalam mendukung sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi Tabanan. Dialogue ini memungkinkan petani untuk menyampaikan harapan dan tantangan yang mereka hadapi.
Melalui pendekatan interaktif ini, Bupati Sanjaya menegaskan bahwa pemerintah akan selalu ada untuk mendukung dan memfasilitasi kebutuhan para petani. Hal ini penting untuk memastikan bahwa program pembangunan benar-benar menyentuh kebutuhan riil masyarakat di lapangan.
Pentingnya dialog ini tidak hanya melibatkan aspek pertanian, tetapi juga menegaskan komitmen pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Ini merupakan langkah maju dalam menjalin hubungan yang harmonis antara pemerintah dan warganya, terutama di sektor pangan.
Model Pendekatan Partisipatif dalam Pembangunan
Program “Bupati Ngantor di Desa” telah menjadi model pendekatan partisipatif yang efektif dalam pengelolaan pembangunan. Melalui program ini, pemerintah mendengarkan suara masyarakat secara langsung dan berupaya mengimplementasikan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Ini adalah langkah yang sangat positif dalam membangun kepercayaan antara pemerintah dan masyarakat.
Melalui kunjungan langsung, Bupati Sanjaya dan jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) berupaya untuk memastikan bahwa setiap langkah pembangunan relevan dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. Dengan cara ini, diharapkan program pembangunan akan lebih tepat sasaran dan efisien.
Satu hal yang penting ditekankan adalah pentingnya keterlibatan masyarakat dalam setiap tahap pengambilan keputusan. Dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, wilayah ini dapat menghadapi tantangan dan meningkatkan partisipasi dalam berbagai aspek pembangunan.
Mewujudkan Kemandirian Pangan Melalui Kolaborasi
Penguatan ketahanan pangan di Tabanan tidak bisa dilakukan sendiri. Semua elemen, mulai dari pemerintah, petani, hingga masyarakat, harus sama-sama berkolaborasi untuk menciptakan ekosistem yang mendukung. Program PaJaLe, yang mencakup padi, jagung, dan kedelai, merupakan salah satu usaha untuk mendorong kerjasama tersebut.
Melibatkan para petani dalam proses produksi, distribusi, dan pemasaran adalah langkah yang penting. Dengan memberikan pelatihan dan dukungan teknis, pemerintah juga berupaya meningkatkan kemampuan para petani dalam memproduksi hasil pertanian yang berkualitas.
Kolaborasi ini juga mendukung pencapaian target-target pembangunan berkelanjutan yang lebih luas, terutama dalam konteks ketahanan pangan. Dengan langkah-langkah yang tepat, Tabanan akan mampu menjadi daerah yang mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.


