www.kilaswarta.id – Kegiatan Orientasi Lapangan (Orlap) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tabanan baru-baru ini berlangsung memukau. Dua taruna Politeknik Pengayoman Indonesia (Poltekpin) menerima kesempatan berharga untuk belajar secara langsung, sehingga pengalaman mereka di Lapas diharapkan dapat memperkaya wawasan dan pengetahuan akademis mereka.
Kepala Lapas Tabanan, Prawira Hadiwidjojo, menjelaskan bahwa orlap ini memberikan momen krusial untuk memperoleh ilmu praktis yang akan berguna ketika mereka melanjutkan studi. Dalam konteks pendidikan, penggabungan teori dan praktik adalah landasan penting bagi para mahasiswa agar lebih siap menghadapi tantangan dunia kerja di masa depan.
Prawira menegaskan, kedua taruna, Andre Dwika dan Ferdisa Ayu Supraja, harus memanfaatkan setiap peluang selama orlap. Beliau percaya bahwa pengalaman di lapangan dapat membantu mahasiswa memahami peran dan fungsi Lapas dalam sistem pemasyarakatan di Indonesia.
Pentingnya Kegiatan Orientasi Lapangan bagi Taruna
Kegiatan orlap bukan hanya sekadar formalitas, tetapi juga menjadi sarana pendidikan bagi taruna yang baru lulus dari sekolah. Dalam orlap, taruna berkesempatan mempelajari keterampilan dan tugas yang relevan dengan profesi yang akan mereka ambil di masa depan.
Prawira juga berpesan agar taruna dapat menyerap informasi sebanyak mungkin selama berada di Lapas. Harapan beliau adalah mereka dapat melihat bagaimana kegiatan sehari-hari di Lapas berjalan, sehingga diberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai dunia pemasyarakatan.
“Melalui orlap, adik-adik akan dapat membandingkan teori yang diperoleh di kelas dengan pelaksanaan praktik nyata di lapangan,” ucap Prawira menekankan pentingnya pengalaman langsung bagi para taruna. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya membawa pengetahuan, tetapi juga membangun mental dan sikap tanggung jawab saat memasuki dunia kerja.
Peran Taruna Poltekpin dalam Dunia Pemasyarakatan
Ferdisa Ayu mengungkapkan rasa antusiasmenya mengikuti kegiatan orlap ini, terutama karena ia adalah fresh graduate yang belum pernah memasuki Lapas. Keterlibatan langsungnya dalam kegiatan ini memberikan perspektif baru mengenai bagaimana pelaksanaan tugas di dalam Lapas.
“Sebelumnya, saya hanya tahu tentang Lapas dari buku dan berita, tetapi melalui orlap, saya mendapat pengetahuan yang nyata tentang kegiatan di dalam sini,” ungkap Ferdisa. Ia berharap pengalaman ini menjadi modal penting dalam kariernya di masa mendatang.
Prawira menambahkan bahwa orlap bertujuan untuk mempersiapkan taruna agar lebih siap menghadapi tantangan di dunia kerja. Aspek mental dan fisik mereka juga akan terlatih melalui kegiatan ini, sehingga dapat mengatasi situasi dalam lingkungan kerja yang sesungguhnya.
Mengintegrasikan Teori dan Praktek dalam Pendidikan
Pendidikan tinggi di bidang hukum dan pemasyarakatan sesungguhnya kerap kali berkutat pada teori. Dengan adanya kegiatan orlap, para taruna diberikan kesempatan untuk mengintegrasikan teori yang dipelajari dengan praktek di lapangan.
“Kami ingin adik-adik dapat merasakan bagaimana seharusnya suatu lembaga pemasyarakatan beroperasi, dan apa saja tantangan yang hadir setiap harinya,” ujar Prawira menjelaskan pentingnya pengalaman di lapangan. Hal ini diharapkan mampu membentuk karakter dan kemampuan mereka dalam beradaptasi di dunia kerja.
Pengalaman di Lapas juga akan menjadi bekal bagi mereka untuk berkontribusi secara nyata dalam pembangunan bangsa. Prawira meyakini bahwa pendidikan yang baik meliputi pengalaman nyata yang akan membekali taruna dengan kemampuan yang utuh dan siap pakai.


